Minggu, 25 Oktober 2015

Mulut dan Mulut ~*~ Tangan dan Tangan

Sudah tahu makna filosofi dari judul entri diatas ?


Jika seseorang tidak suka perbedaan yang ada pada dirimu. Baik dari cara mereka berargumen atau pun dengan kekerasan. Maka lawanlah! Lawan dengan cara yang sama. 

Saya memerhatikan beberapa hal telah terjadi pada diri saya sendiri selama ini. Dalam waktu yang cukup lama membuat saya panas bagaimana mereka melakukan kekerasan secara verbal untuk menjatuhkan. Sampai suatu waktu, akhirnya saya membalas dengan cara yang sama. *saya tahu ini bukan dari diri saya*

Namun, untuk saat itu 'berhenti mengasihani diri' adalah alasan saya melakukannya. Mereka marah?
Yah, mereka marah dan hasilnya memar di bagian pelipis kanan. Selanjutnya saya tidak melawan karena saya sudah tahu bahwa terjadi ketidak seimbangan jika saya melawan mereka. 

Namun, hidup terus berjalan. 

Allah membalas apa yang mereka lakukan dengan cara meningkatkan derajat saya di mata manusia. Bagi Allah itu mungkin perubahan yang sangat kecil tapi bagi saya melihat mereka mengemis di depan saya itu sudah sangat luar biasa. Mereka mengakui bahwa saya adalah bagian dari mereka.

Apa itu Tulus ?

Jelaslah tidak tulus. Namun, untuk pertama kalinya saya merasa keseimbangan telah terjadi. Saya pernah mengemis depan mereka dan mereka pun pernah mengemis di depan saya.

Jangan tiru apa yang saya lakukan. Tolong jangan tiru apa yang telah saya lakukan. Karena . . . Keseimbangan bukan alasan untuk tidak berbuat baik. 

Sabtu, 24 Oktober 2015

Remaja ~^00^~ 20 Tahun

Pergaulan, entah mengapa kata itu menjadi kata yang sangat saya hindari. Bukan karena saya sombong. Bukan juga karna saya aneh. Hanya saja saya masih sulit memberikan sesuatu yang belum harus saya berikan di usia 20 tahun ini.

Saya sebenarnya tidak suka menjadi ekslusif diantara yang lain. Hanya karena semenjak kecil saya sudah melewatkan fase-fase berteman dengan banyak orang disebabkan pembully-an yang saya alami selama 4 tahun. Dan akhirnya saya menjadi orang yang tidak pandai bergaul, pendiam sekaligus di juluki si bocah malang. Dan keputusan terberat yang pernah saya rasakan yakni pindahan.

Setelah itu, kejiwaan saya kembali membaik. Karena menjadi anak baru membuat 'teman' menghampiri tanpa harus memulai memperkenalkan diri. Saat itu, saya merasa melayang. Di desa saya dibilang anak yang cerdas dan manis. Itu membuat saya menjadi semakin melayang. 

Sepak bola adalah jenis olahraga yang paling diminati disana. Sampai suatu waktu saya disuruh gabung ke kelompok sepak bola. *padahal, saya tidak tau apa-apa mengenai sepak bola* 

Akhirnya, mereka menertawakan permainan sepak bola saya. Dan saya merasa de javu telah terjadi. Si bocah ingusan itu kembali dibully. Padahal, mereka sangat menyanjung kelebihan saya sebelumnya.

Kesimpulan yang terlalu cepat untuk menyatakan bahwa saat itu saya tidak perlu bergaul dengan siapa pun.

Menutup diri.

5 sampai 6 tahun kemudian saya akhirnya mencoba untuk kembali bergaul. Namun, sudah terlambat. SI BOCAH itu melewatkan banyak sekali hal-hal indah. hanya karena merasa hina dimata orang lain.Terlalu lama menutup diri.

Dan sekarang, usia 20 tahun. 

Ia melewatkan masa kanak-kanak dan sebagian masa remajanya. Dan ia belum tau, selanjutnya apa yang akan terjadi. 

Mungkinkah, Tuhan akan mengambil masa remaja dan masa-masa selanjutnya di usia itu ?

"Saya harap saya siap..."